Indonesia memiliki seluruh modal untuk menjadi salah satu pusat industri mebel dan kerajinan dunia. Kekayaan hutan yang dikelola secara lestari, ketersediaan bahan baku, kreativitas para desainer, keterampilan para perajin, serta pengalaman panjang pelaku usaha dalam menembus pasar ekspor merupakan kekuatan yang tidak dimiliki banyak negara.
Namun, di tengah perubahan ekonomi global, keunggulan tersebut saja tidak lagi cukup. Pasar internasional kini menuntut lebih dari sekadar produk yang indah. Konsumen menginginkan kualitas yang konsisten, kepastian pasokan, legalitas bahan baku, keterlacakan (traceability), keberlanjutan, inovasi, serta kemampuan industri beradaptasi terhadap perubahan yang berlangsung semakin cepat.
Karena itu, daya saing industri tidak dapat lagi dibangun secara parsial. Ia harus menjadi hasil dari kolaborasi seluruh ekosistem nasional.
Penyelenggaraan Indonesia Furniture & Woodworking Industry Conference (IFWIC) 2026 di Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu (Polifurneka) Kendal, Selasa, 28 Juli 2026, merupakan contoh nyata semangat tersebut. Forum ini mempertemukan pemerintah, dunia usaha, akademisi, lembaga pendidikan vokasi, mitra internasional, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun satu visi bersama: memperkuat daya saing industri furnitur dan pengolahan kayu Indonesia.
Kami menyampaikan apresiasi kepada Polifurneka yang tidak hanya menjadi tuan rumah penyelenggaraan IFWIC 2026, tetapi juga menunjukkan bahwa pendidikan vokasi merupakan investasi strategis dalam membangun masa depan industri nasional. Kampus vokasi tidak hanya mencetak lulusan, melainkan menyiapkan generasi yang siap berkarya, berinovasi, dan menjawab kebutuhan industri.
Regulasi Harus Menjadi Pengungkit Daya Saing
Dalam membangun industri, saya selalu teringat pada ungkapan yang sangat terkenal: “Tidak peduli kucing itu hitam atau putih, yang penting mampu menangkap tikus.”
Esensinya sederhana. Keberhasilan sebuah kebijakan tidak diukur dari banyaknya aturan yang dibuat, melainkan dari manfaat nyata yang dihasilkan.
Karena itu, setiap regulasi perlu diuji dengan satu pertanyaan mendasar: Apakah kebijakan tersebut membuat industri Indonesia semakin produktif, semakin kompetitif, semakin banyak menciptakan lapangan kerja, dan semakin besar peluang ekspornya?
Jika jawabannya “ya”, maka kebijakan tersebut layak dipertahankan. Namun jika belum, sudah saatnya dilakukan penyempurnaan.
Dunia usaha tidak mengharapkan perlakuan istimewa. Dunia usaha membutuhkan kepastian, kemudahan berusaha, sinkronisasi antar-kebijakan, serta regulasi yang mendorong investasi, inovasi, dan produktivitas.
Regulasi seharusnya menjadi pengungkit daya saing, bukan sekadar alat pengendali.
Bangun Manusianya, Sempurnakan Karyanya
Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa industri yang maju selalu bertumpu pada kualitas manusianya. Mesin dapat dibeli. Teknologi dapat dipelajari. Modal dapat dihimpun.
Namun integritas, disiplin, kreativitas, kepemimpinan, dan budaya kerja hanya dapat dibangun melalui pendidikan dan pembinaan yang berkelanjutan. Karena itu, pembangunan industri harus dimulai dari manusianya.
Pada saat yang sama, setiap karya harus terus disempurnakan melalui inovasi, peningkatan kualitas, efisiensi, desain, dan nilai tambah.
Apabila manusia yang unggul menghasilkan karya yang unggul, maka daya saing bangsa akan tumbuh dengan sendirinya. Inilah filosofi pembangunan industri yang perlu terus kita dorong.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Tidak ada satu institusi pun yang mampu membangun daya saing sendirian. Pemerintah berperan menghadirkan kebijakan yang kondusif.
Dunia usaha melakukan investasi, menciptakan lapangan kerja, dan membuka pasar. Perguruan tinggi dan politeknik menghasilkan inovasi serta sumber daya manusia yang kompeten. Media membangun optimisme sekaligus mengedukasi publik.
Kolaborasi antarkementerian, khususnya Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Kehutanan, juga menjadi sangat penting agar kebijakan berjalan dalam satu arah, saling menguatkan, dan memberikan kepastian bagi dunia usaha.
Optimisme Menuju Indonesia sebagai Pusat Furnitur Dunia
Saya optimistis Indonesia mampu memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat industri furnitur dan pengolahan kayu dunia. Kita memiliki sumber daya alam, budaya, kreativitas, serta generasi muda yang siap melanjutkan estafet pembangunan industri.
Yang perlu terus kita bangun adalah ekosistem yang sehat, di mana manusia terus berkembang, karya terus disempurnakan, dan kebijakan semakin memihak pada peningkatan daya saing.
Keberhasilan bangsa pada akhirnya bukan diukur dari banyaknya regulasi yang diterbitkan, melainkan dari kemampuan regulasi tersebut melahirkan industri yang produktif, masyarakat yang sejahtera, dan generasi yang mampu bersaing di tingkat global.
Karena itu, marilah kita membangun manusianya, menyempurnakan karyanya, dan menyelaraskan kebijakannya. Dengan sinergi tersebut, Indonesia tidak hanya akan menjadi peserta dalam perdagangan dunia, tetapi akan tumbuh menjadi salah satu pemimpin industri furnitur dan pengolahan kayu dunia.
- Penulis: Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur.***